Aug 28, 2014

Memaknai makna diri





Ini kali pertama aku tulis dua post dalam hari yang sama . Seingat aku . Entahlah , biarlah walaupun tiada jiwa yang membacanya , biarlah tiada manusia yang merakamnya . Kerna telah ku serahkan imbalannya hanya pada Allah .

Jujur , kalaulah Allah tidak ingin menyembunyikan keaiban diriku , dosaku , nodaku . Nescaya akulah makhluk paling hipokrit . Mengaku daie namun serba serbi mengabaikan mutabaah . Mengaku membawa mutarabbi , pesan dan himmah agar sentiasa menjaga mutabaah amal sendiri . Namun aku ? Tidak langsung merisaukan bagaimana pertemuan dua mataku dengan Rabbul Jalil di akhirat sana . Apa aku ingin memungkiri janji untuk sehidup semati dengan dakwah ini . Tidak cukupkah madu tarbiyah yang telah dihirup . Mengapa setelah bertahun madu yang telah diteguk , sepahnya ku buang merata ?

Aku bukan manusia yang seperti kau bayangkan wahai ukhti . Aku juga punya sisi gelap . Punya cerita semalam yang aku simpan . Dalam sudut hati yang paling dalam , aku masih sama . Bersatus manusia . Tidak pernah ku diangkat ke taraf malaikat atau dijunamkan ke taraf iblis . Allah masih berkehendakkan aku sebagai seorang manusia . Harus tanggung , dan harus jawab . 
Parah ukhti ..Parah..

Kalaulah dikatakan para duat itu umpama singa di siang hari dan malamnya umpama abid di tikar sejadah. Aku belum merasakan itu . Aku masih kijang kecil yang berlari-lari dengan mengah kerana penat dihujani beban dakwah yang diselaputi awan yang masih mendung . Kalaulah dikatakan para duat itu seluruh hidupnya dihabiskan dengan amal jamaie , berlaga pipi dengan akhawat seberang sana dan sini , aku belum begitu . Pernah saja hatiku kering tatkala berjumpa akhawat . Biarlah dia yang rancak bertanya itu dan ini sedangkan aku diam membatu . Menjawab hanya bila perlu . Bagaimana hendak merasakan bahagia seperti Muhammad bin Abdullah rasakan ? Benarlah , selagi kita belum benar-benar mencelupkan diri dalam dakwah ini , kita tak mungkin merasakan manisnya . Selagi mana islam dan iman itu belum benar-benar sebati dalam jiwa , mana mungkin bayangan syurga itu bisa dihidu sedang kaki masih melangkah di atas tanah dunia .

Bagaimana hendak merasakan kemanisan meninggalkan , mengorbankan harta , anak pinak , isteri serta keluarga jika hawa nafsu sendiri belum berjaya ditundukkan . Pernah aku merasakan hatiku sudah keras . Kerna tiada lagi air mata yang bisa aku tumpahkan atas jalan ini . Kering kontang hingga pabila diterjemahkan dalam dedaun kering , bisa rabak dan terbang dibawa angin .

Sungguh , Allah itu Ilahku , yang masih sudi menyayangiku . Dia gerakkan hati aku . Petang tadi  sedang ralit menyiapkan bahan lantaran tugas sebagai MC dalam usrah esok hari , terjumpa blog saudara seislamku , di alam maya . Dia dan aku tidak mengenali . Tapi tulisannya benar-benar ruhiy . Habis kisah-kisah lama , tulisan-tulisan lamanya aku selongkari . Sungguh , aku benar-benar terkedu . 

15 tahun usia tarbiyahnya .
Itu lama , wahai duat. Lama untuk membiarkan diri masih berada di tahapan yang sama . Namun satu perkara yang pasti , dia pernah mengalami apa yang aku alami . Dan aku sangat-sangat yakin , bukan dia sahaja yang merasakan fasa kekeringan ini , bahkan seluruh manusia yang mendokong jalan ini .

Jika tidak , masakan kegembiraan dan sinar cahaya buat insan bernama Muhammad hadir dalam dakapan mesra dan manja surah dhuha . 

Tuhanmu tidak pernah meninggalkanmu dan tidak juga membencimu “


Nah , belum cukup lagikah pujukan Tuhanmu ? Dia pasti selalu ada bahkan lebih dekat dari urat lehermu . Aku yang sedang menekan-nekan keyboard di tengah larut malam sambil ditemani kedua-dua malaikat ini , sangat mengharapkan agar perasaan yang terhidup malam ini , bisa kekal istiqamah . Dan aku mengharapkan tulisan-tulisannya dan tulisanku bisa menggegarkan makhluk kecil bernama iman dalam hati kalian . Dan kepada Allah sahaja diharapkan agar bisa menjentik hati kamu , dan juga aku . Agar berubah . Agar berjihad dengan amal . Kerna amal adalah bukti cinta . Agar keseluruhan cinta para Nabi , para sahabat dan para tabi' tabien bisa dimanifestasi dan diterjemahkan , hingga dakwah ini diwarisi oleh mereka-mereka yang sanggup . Dan mungkin waktu itu kita tiada lagi berkongsi udara yang sama dengan pewaris itu . Kerna terlebih dahulu pergi mencium tanah , ibu sejak azali .

Teringat beberapa detik lepas . Sudah lama ku cari ke mana hilangnya buku nota waktu di awal-awal pentarbiyahan diri . Saat masih diberi coklat dan hadiah . Saat dilayan bagaikan bidadari oleh murobbi * gelak kecil * . Dan lama kelamaan ujian makin berat . Layanan manja ala-ala puteri sudah ditarik kembali . Ketegasan dan pengkaderan mengambil tempat , mengusir bibit-bibit kemalasan untuk bergerak . Teringat bagaimana sifat-sifat tarbiyyah yang mengembangkan itu mengambil tempat . Aku bisa menulis begini kerana aku sendiri merasakan hangatnya tarbiyyah . Bagaimana berubahnya aku yang dahulu , dengan aku yang sekarang . Bak kata allahyarham KH Rahmat Abdullah , seorang pakcik lejen dalam DnT ,
"tarbiyyah ini  mengembangkan energi dan potensi yang ada . Kalau dengan tarbiyyah ini berjalan , tapi potensinya tidak berkembang. Yang penakut masih penakut , ajukan pendapat tidak berani . Berarti tarbiyyah ini tidak berhasil ."

Jikalau kita yang dahulu masih sama dengan kita yang sekarang . Bererti itu adalah futur .
Jikalau benar mengaku thabat , kita benar-benar membumikan tarbiyyah . Thabat itu mengikuti tapi bukan mengikuti tanpa berbuat apa-apa . Tapi mengikuti dengan mengembangkan potensi diri . 

Begitulah seharusnya wahai golongan islah .
Futur jangan dibiarkan . Mintalah pada Allah agar kau kembali berada di siraatal mustaqim .

Mohon maaf atas isi yang bertebaran terbang tanpa matlamat tetap . Masih gusar akan penulisan yang tidak konsisten . Mohon walau tidak banyak , adalah sedikit saham di akhirat kelak . Doakan supaya Allah meneguhkan hati ini setelah memberi perasaan ini pada malam ini . Moga istiqamah !

Terima kasih , penulis muharrikdaie.wordpress.com


Aug 27, 2014

Betapa hebatnya kuasa qudwah

Betapa hebatnya kuasa qudwah . 
Aduh ,betapa aku sedang bertarung menakar jiwaku sendiri . Diuji dengan cuti bertubi-tubi . Allah hadirkan koreksi bagi hati . Supaya aku kembali memaknai makna iman dan tarbiyah dalam diri .

Betapa hebatnya kuasa qudwah , saat aku hampir tenggelam , lemas dan rimas ditarik-tarik jahiliyyah lama , Allah menghembuskan kembali angin rahmat . Lembut . Sungguh , pertemuan ini bukan kebetulan . Melihat kau di depan mata . Mata kita saling bertentang . Ku lihat taujihatmu membakar , membakar dingin beku hatiku yang sengaja ku sepikan dari kehangatan iman .

Betapa hebatnya kuasa qudwah , melihat kepada sisi lain hidupmu . Seratus delapan puluh darjah , persepi ku berubah . Gelakmu , tadhiyahmu , ruangmu , perbelanjaanmu , waktumu , bahkan segenap ruang dalam rumahmu kau infakkan untuk dakwah ini . Sedang aku ? Masih berkira-kira , masih ragu dengan janji pemerdagangan ini . 

Dan kamu , kamu yang baru ku kenali . Mulanya aku berkira , kau sama sahaja . Iya , aku bukan tuhan . Masakan hatimu bisa ku robek untuk mengetahui apa di dalamnya . Apakah yang ada di dalam hatimu ? mengapa kamu setegar ini ? Adakah kamu tidak punya kegelapan waktu silam lantaran ketenangan yang terpancar di riak wajah . Manakah kegusaran itu sembunyi dari menampakkan dirinya . 

Sungguh , qudwahmu banyak mengubahku 
Terngiang-ngiang , bermain di benak dan kalbu 
Lembutmu melayani manusia
Tawamu penuh hikmah
Sisi pandangmu benar-benar merubah 

Wahai manusia asing , sebenarnya kamu ini siapa ?